Senin, 10 September 2012

Setetes Madu


Sebenarnya sejak zaman dulu orang mengenal dan memanfaatkan madu untuk kesehatan. Madu yang dikonsumsi merupakan madu yang berasal dari lebah local yang mudah ditemukan dan berada di sekitar lingkungan mereka, karena pada waktu itu madu merupakan asupan yang sangat istimewa dan berkelas, serta merupakan hasil pengambilan langsung dari media alaminya seperti di bagian konstruksi rumah, di kayu berlubang, di tebing tanah dan di batuan berrongga.

 Pada jaman dulu, salah satu jenis lebah penghasil  madu yang paling mudah ditemukan di daerah-daerah pedesaan di Indonesia adalah lebah trigona. Nama alias lebah trigona di beberapa daerah berbeda-beda, di Pulau Jawa dikenal dengan sebutan Teuweul, Lanceng, Klanceng, Lonceng. Sementara di daerah lain lebah mini ini dikenal dengan nama Ketape, Kammu, Gala-gala, Galo-galo, Madu Semut, Kelulut, dll. Di wilayah Provinsi Kalbar sendiri dikenal dengan beberapa nama, diantaranya Klulut ,Teuweul, Lanceng . Adanya fakta sebutan yang berbeda-beda di tiap daerah terhadap lebah trigona menunjukkan bahwa madu yang paling banyak digunakan untuk pengobatan pada jaman dulu di daerah-daerah adalah dari jenis Trigona. Sp.

Beberapa tahun ke belakang, jenis madu lebah yang paling popular di masyarakat indonesia adalah dari spesies Apis Mellifera. Lebah jenis ini memang terbilang produktif dalam memproduksi madu. Apis mellifera adalah lebah yang unggul yang di impor dari Belanda, Italia dan Australia. Tingginya produktifitas madu dari apis ini membuat banyak orang tergerak untuk melakukan budidaya dalam sekala besar, bahkan pemerintah dan kaum usahawan pun melirik potensi Apis Mellivera ini dan menatanya dalam proyeksi bisnis besar.


Namun seiring dengan bergulirnya waktu, kepopuleran madu dari lebah bersengat itu mulai merosot dikarenakan menurunnya trust konsumen terhadap keutamaan madu. Madu yang seyogyanya jadi pengobat, malah berubah menjadi penyebab kambuhnya penyakit-penyakit tertentu.

Sebagai contoh, sejak awalnya hadir di bumi ini rasa madu itu terkenal manis, karena kepentingan bisnis yang besar dikenalkanlah kepada konsumen madu yang rasanya pahit, jadilah ‘madu pahit’. Contoh yang lain, semua orang tahu lebah itu mahluk merdeka apalagi lebah madu liar, tapi karena alasan digembalakan, tiba-tiba muncullah produk madu yang memiliki rasa tertentu seperti rasa lengkeng, rambutan, rangdu, dll. Madu kok rasa-rasa kayak sirop? Kalaupun itu benar bukankah madu yang baik itu adalah madu yang memiliki komposisi tertentu, dan bagaimana membuatnya hanya lebah yang tahu berapa persentasenya, baik nectar yang berasal dari bunga, maupun dari bagian lain pada tanaman (ekstrafloral). Hal terburuk, penyebab timbulnya krisis kepercayaan adalah penuhnya madu palsu dan oplosan di pasaran. 80%, bukan persentase yang wajar, tapi kurang ajar!

Untuk mendukungnya beberapa asumsi dan opini pun di gulirkan oleh usahawan yang tak bertanggung-jawab itu ke berbagai media agar dapat meyakinkan konsumen dan calon konsumen, dari yang sederhana sampai yang berbau ilmiah tingkat tinggi, dari yang benar sampai yang ugal-ugalan.

Kadangkala terbersit pertanyaan di pikiran saya, kenapa sih mereka tega memalsukan atau mengoplos madu? Apakah karena hanya ingin meraup untung yang besar? Ataukah sudah hilang sisi kemanusiaannya bahwa madu itu untuk pengobatan manusia, bukan binatang percobaan? Padahal, setelah saya bergelut langsung pada bisnis ini, menjual madu yang murni jauh lebih menguntungkan dan memberikan kepuasan secara bathiniyah ketika madu yang di jual bermanfaat nyata bagi konsumen.

Tingginya market demand terhadap madu memang sebuah godaan besar bagi pengusaha madu. Tidak adanya balancing antara demand dengan produksi, menggoda oknum usahawan madu dan masyarakat untuk memalsukan atau mengoplosnya.

Tingginya godaan ‘meraup untung besar’ dalam bisnis madu, tidak hanya menerpa kaum usahawan, namun sudah merambah ke akar rumput (wuih.. bahasanya politis juga ya!). 

Sekedar ilustrasi, tahukan Anda bahwa di daerah Banten  ada sebuah suku yang terkenal menjalani hidupnya dengan mengutamakan kejujuran? Tepat sekali.. ‘Suku Baduy’!, orang baduy luaran salah satu profesinya adalah berjualan keliling keluar dari daerahnya. Ada yang menjual zimat/ mustika [?], senjata tajam, dan salah satunya menjual ‘madu aseli dari hutan’ katanya. Mungkin ada beberapa orang baduy yang memang menjual madu aseli, tapi kebanyakannya menjual madu palsu. Kepolosan dan keluhuran tradisi suku Baduy seringkali membuat konsumen madu terperdaya. Mereka adalah contoh oknum individual di bisnis madu.

Bisnis madu adalah amanah mulia dan akan dipertanggung-jawabkan di akherat kelak. Ingat itu! oleh karena itu wajib di pedomani dan di jalankan dengan serius oleh para produsen, bahwa kewajiban kita adalah menyediakan madu apa adanya sesuai kemampuan (jadi ga usah maksain deh…) dan selalu menjamin originalitas madu. Perkara kemanjurannya biar Allah yang mengurusnya karena Ia telah menjanjikannya dalam kitab-kitab suci kita.   

Begitulah, dalam bisnis ini setetes madu itu berharga. Berhati-hati dan waspadalah…